Sabtu, 06 November 2010

Belumkah Saatnya Kita Sadar?


Indonesia kembali menangis. Bencana demi bencana datang silih berganti mengisi lembaran sejarah perjalanan bangsa ini. Tentu belum hilang dari ingatan kita ketika Tsunami yang besar meluluh lantakkan Nangroe Aceh Darussalam dan sebagian daerah di provinsi sekitarnya. Dan... sekarang kita rasakan yang baru saja terjadi yakni tsunami yang menerjang Mentawai dan juga meletusnya gunung Merapi yang terus memakan korban jiwa dan harta benda. Ketika bencana itu terjadi, kita semua tentu bertanya-tanya, apakah ini hanya gejala alam biasa ataukah ini sebuah peringatan dari sang pemilik jagad raya alam semesta, Alloh -subhanahu wa ta'ala-.
Pada dasarnya segala kerusakan yang terjadi di muka bumi ini tidaklah lepas dari perbuatan rusak manusia itu sendiri yang dengan sombongnya menghancurkan dirinya sendiri tanpa dia sadari. Alloh -subhanahu wa ta'ala- berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).


Dalam ayat tersebut, Alloh -subhanahu wa ta'ala- telah memberikan isyarat kepada kita semua bahwa segala kerusakan yang terjadi di dunia ini, di muka bumi ini dalam segala bentuknya, penyebab utamanya tidak lain dan tidak bukan adalah perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan oleh manusia. Jadi inti segala kerusakan yang terjadi baik itu berupa bencana alam seperti tsunami maupun gempa ataupun meletusnya gunung berapi itu sejatinya adalah maksiat yang dilakukan oleh manusia dan menjadi sumber dari segala kerusakan yang nampak di muka bumi ini.

Imam Abul ‘Aliyah ar-Riyaahi berkata, “Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi maka (berarti) dia telah berbuat kerusakan padanya, karena perbaikan di muka bumi dan di langit (hanyalah dicapai) dengan ketaatan (kepada Allah Ta’ala)”.

Imam asy-Syaukaani ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Dalam ayat ini) Allah menjelaskan bahwa perbuatan syirk dan maksiat adalah sebab timbulnya (berbagai) kerusakan di alam semesta”.

Dalam ayat lainnya Alloh -subhanahu wa ta'ala- berfirman:

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS asy-Syuura:30).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Allah Ta’ala memberitakan bahwa semua musibah yang menimpa manusia, (baik) pada diri, harta maupun anak-anak mereka, serta pada apa yang mereka sukai, tidak lain sebabnya adalah perbuatan-perbuatan buruk (maksiat) yang pernah mereka lakukan…”.

Sekarang mari kita lihat realita yang terjadi tentang bencana ini khususnya bencana meletusnya gunung merapi. Apa penyebabnya? mari kita perhatikan dan cermati bersama.


1. Di Bulan Ramadhan, Lokalisasi Pelacuran Tetap Beroperasi Di Siang Hari (Baik di Yogyakarta Maupun Solo)

Ya Allah, inilah menurut kami, penyebab kehancuran moral yang menjadi penyebab utama bencana moral dan menjadi bencana Alam.

Bagaimana tidak, perhatikan berita yang beredar di VIVANEWS..

VIVAnews - Lokalisasi terbesar di Kota Yogyakarta, Pasar Kembang (Sarkem) dipastikan tetap akan beroperasi selama bulan suci Ramadhan 2010. Hanya saja, setiap laki-laki yang datang ke lokasi tersebut, wajib mengisi buku tamu sesuai KTP.

"Meski tidak tutup, dengan mengisi buku tamu sesuai KTP, akan membuat laki-laki enggan untuk masuk lokalisasi Sarkem," kata salah seorang personel keamanan di lokalisasi Sarkem yang enggan disebutkan namanya, Sabtu, 24 Juli 2010.

Menurutnya, di lokalisasi Sarkem ini setidaknya ada sekitar 1000 wanita penjaja sex komersial. Para PSK ini ada yang menginap dilokalisasi dan ada yang megontrak tak jauh dari lokalisasi Sarkem.

"Meski tetap buka saat bulan puasa, sering berlangsung razia dari petugas polisi maupun Satpol PP, sehingga lokalisasi terkadang buka, namun juga terkadang tutup," paparnya.

Kepala Bidang Pengendalian Operasional Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta, Nurwidi Hartana menyatakan, Pasar Kembang merupakan kampung tua yang sejak dulu telah dijadikan tempat lokalisasi.

Meski demikian, pihak akan tetap melakukan razia secara rutin selama bulan puasa."Sebelum bulan puasa kita juga telah melakukan. Kami akan menggencarkan operasi saat bulan puasa ini," ujarnya singkat.

Di Solo, Jawa Tengah pun demikian, sejumlah tempat hiburan tetap boleh beroperasi selama bulan suci Ramadhan. Hanya saja waktu jam kunjung dibatasi hingga pukul 02.00 Wib.(np)
(bisa baca di :Sumber : http://nasional.vivanews.com/news/read/166638-ramadhan--lokalisasi-di-yogyakarta-tetap-buka)

2. Kemusyrikan di 2 tempat utama, yakni Pantai Kidul dan Gunung Merapi, setiap tahunnya diberikan labuhan sesajen makanan untuk penguasa Jin dikedua tempat.

Lihat saja sebuah kutipan dari sebuah web Yogyes.com

Labuhan dimulai dengan upacara pasrah penampi (penyerahan sesaji) dari Parentah Ageng Kraton Ngayogyakarta kepada Bupati Bantul di Pendapa Kecamatan Kretek. Setelah itu, uba rampe dibawa ke Pendapa Parangkusumo untuk diwilang (diperiksa) sebelum diserahkan kepada juru kunci Parangkusumo, sekaligus didoakan. Acara doa berlangsung di Cepuri Parangkusumo. Di tengah areal Cepuri terdapat batu yang menjadi tempat pertemuan Panembahan dan Ratu Kidul

Setelah didoakan, salah satu uba rampe berisi lorodan ageman (pakaian bekas Sultan), kenaka (potongan kuku) serta rikma (potongan rambut) Sultan selama setahun, dikubur di sudut Cepuri sambil menabur bunga dan membakar dupa.

Sisa uba rampe berisi sembilan kain dengan corak dan warna khusus, uang tindih lima ratus (sebelumnya hanya seratus), minyak koyoh, ratus (dupa), serta layon sekar (sejumlah bunga yang telah layu dan kering, bekas sesaji pusaka-pusaka Kraton selama setahun), juga termasuk jajanan pasar; dibawa di atas tiga tandu melewati jalan yang dibatasi tiang-tiang di kedua sisi hingga bibir pantai.

Uba rampe kemudian dilarung. Pada saat sesaji yang dilarung ini kembali ke pantai terbawa ombak, Peserta yang hadirpun berebut isi sesaji. YogYES yang sempat menyaksikan atraksi tersebut, menganggap hal ini adalah salah satu daya tarik dari upacara itu sendiri. Kepercayaan setempat, benda-benda tersebut dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan.

Selanjutnya para abdi dalem menuju Gunung Merapi. Sebelum labuhan, uba rampe wilujengan yang berupa sembilan tumpeng dan satu gunungan uluwetu, dikirab dari rumah Dukuh Pelemsari, menuju rumah juru kunci Merapi. Sesaji ini kemudian didoakan dan diinapkan di pendopo rumahnya.

Prosesi labuhan ini juga menampilkan fragmen tari dengan lakon Wahyaning Mongsokolo Labuhan, kesenian jathilan, uyon-uyon dan karawitan. Pada malam harinya akan diadakan tirakatan dan pagelaran wayang kulit Semar Bangun Kahyangan. Pada dini hari, sesaji diberangkatkan ke Pos II lereng selatan Merapi untuk dilabuh. Labuhan Merapi dilakukan bersamaan dengan Labuhan Gunung Lawu di Karanganyar, Jawa Tengah.


Ada 2 hal yang bisa kita catat dari realita di atas.

1. Labuhan berarti memberi makan kepada musuh kita yaitu Setan, dan ini adalah kesyirikan kubra (besar) yang dimurkai Allah, dan dipercaya labuhan bisa membawa keberuntungan ... Astaghfirullah.. hanya Allah saja yang bisa memberi keberuntungan....

2. Kemaksiatan pun tetap berjalan di bulan Ramadhan, dan mengapa semua masyarakat Yogya hanya diam ? Bahkan Pemerintah Kota Yogya seakan menutup mata, seolah-olah tidak tahu kalau Lokalisasi Sarkem tetap buka di Bulan Ramadhan...Astaghfirullah...

Dan tulisan ini bukan berarti ingin menghakimi Kota Yogya dan masyarakatnya, namun hanya sebagai introspeksi diri kita semua bersama-sama. Sungguh, kami sangat sedih akan peristiwa bencana gunung merapi. Tapi sungguh bijaksana jika kita mau melihat ke belakang , apa saja yang menjadi penyebab peristiwa begitu dahsyatnya Allah menunjukkan kuasanya kepada kita dari Gunung Merapi ini.

Cara mengatasi dan memperbaiki kerusakan di muka bumi
Karena sebab utama terjadinya kerusakan di muka bumi adalah perbuatan maksiat dengan segala bentuknya, maka satu-satunya cara untuk memperbaiki kerusakan tersebut adalah dengan bertobat dengan taubat yang nasuh[14] dan kembali kepada Allah. Karena taubat yang nasuh akan menghilangkan semua pengaruh buruk perbuatan dosa yang pernah dilakukan.

Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang telah bertobat (dengan sungguh-sungguh) dari perbuatan dosanya, adalah seperti orang yang tidak punya dosa (sama sekali)”.

Inilah makna yang diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala di atas,

“…supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Artinya: agar mereka kembali (bertobat) dari perbuatan-perbuatan (maksiat) yang berdampak timbulnya kerusakan besar (dalam kehidupan mereka), sehingga (dengan tobat tersebut) akan baik dan sejahteralah semua keadaan mereka”.

Maka kembali kepada petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mempelajari, memahami dan mengamalkannya adalah solusi untuk menghilangkan kerusakan di muka bumi dalam segala bentuknya, bahkan menggantikan kerusakan tersebut dengan kebaikan, kemaslahatan dan kesejahteraan.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS al-A’raaf:96).

Artinya: Kalau saja mereka beriman dalam hati mereka dengan iman yang benar dan dibuktikan dengan amalan shaleh, serta merealisasikan ketakwaan kepada Allah I lahir dan batin dengan meninggalkan semua larangan-Nya, maka niscaya Allah akan membukakan bagi mereka (pintu-pintu) keberkahan di langit dan bumi, dengan menurunkan hujan deras (yang bermanfaat), dan menumbuhkan tanam-tanaman untuk kehidupan mereka dan hewan-hewan (ternak) mereka, (mereka hidup) dalam kebahagiaan dan rezki yang berlimpah, tanpa ada kepayahan, keletihan maupun penderitaan, akan tetapi mereka tidak beriman dan bertakwa maka Allah menyiksa mereka karena perbuatan (maksiat) mereka”.

Oleh karena itu, “orang-orang yang mengusahakan perbaikan di muka bumi” yang sebenarnya adalah orang-orang yang menyeru manusia kembali kepada petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan mengajarkan dan menyebarkan ilmu tentang tauhid dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia.

Dan yang terakhir marilah kita bantu saudara-saudara kita yang mengalami musibah dengan segenap kemampuan yang kita miliki bi idznillahi ta'ala...

Wallohu'alam bish showab

7 komentar:

Rachmadi Triatmojo mengatakan...

Bismillah,
Dengan adanya musibah ..bukannya tobat malah timbul dukun baru Ponimin ...

Wahai da'i-da'i Tauhid apakah kalian tetap berpangku tangan melihat ini semua ?

Anonim mengatakan...

artikel yg sangat berbobot.
jazzakallah atas ilmunya. smg kita semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari semua ini. Semoga Allah senantiasa mengaruniai qt smua dg taufik dan hidayahNya... Amiiin

Abu Affan mengatakan...

Ahsanta akh...

Apakah musibah ini tidak cukup bagi mereka untuk meyerahkan diri mereka semata-mata kepada Alloh??

Allohul Musta'an...

syababpetarukan mengatakan...

bismillah. ijin share ya akhy, jazakallah khair

Abu Affan mengatakan...

@syababpetarukan: tafadhdhol ya akhii.. semoga bermanfaat. wa anta jazakallohu khoir..

Annisa mengatakan...

Subhanallah...
bermanfaat akhi...
memberi makan/membuang makanan di laut untuk setan...
bisa membuat laut kita penuh dengan sampah...
lagi buat apa makanan di buang ke laut...
Masyarakat aja masih banyak yang kelaparan...

Abu Affan mengatakan...

@Annisa: na'am, ahsanti. beginilah keadaan masyarakat kita, jauh dari tauhid yang benar, semoga kita semua diberikan petunjuk oleh Alloh -subhanahu wa ta'ala- baarokallohufiik...

Poskan Komentar

Silakan komentar di bawah sini ya...

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes