Minggu, 12 Desember 2010

~Marhaban..... Shaum 'Asyura'....!!~

Para pembaca yang semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita. Alhamdulillah, saat ini kita sedang berada di bulan Muharram. Suatu bulan yang agung dan mulia, bulan yang terdapat di dalamnya suatu kejadian yang merupakan salah satu bukti dari kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada salah satu hari di bulan ini Allah subhanahu wa ta’ala telah menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam dan kaumnya dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):

“Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (Al Baqarah: 50)

Peristiwa yang besar tersebut terjadi pada tanggal 10 Muharram, maka sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala, Nabiyullah Musa ‘alaihis salam bershaum pada hari tersebut. Shaum ‘Asyura’ sendiri telah dilaksanakan oleh kaum Quraisy di masa jahiliyyah sebagaimana hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Dahulu Kaum Quraisy di masa jahiliyyah bershaum (berpuasa) pada hari ‘Asyura’ dan Rasulullah juga berpuasa pada hari tersebut.” (HR. Al Bukhari no. 3544)

Begitu pula dengan bangsa Yahudi, mereka telah melaksanakan puasa ‘Asyura’. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah dan tiba di Madinah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi telah melaksanakan shaum pada hari tersebut.

Diriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu,

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’. Kemudian mereka ditanya (tentang puasa mereka tersebut), Maka mereka menjawab: “Ini merupakan hari yang Allah memenangkan Musa dan bani Israil atas Fir’aun. Dan kami bershaum (berpuasa) pada hari ini untuk mengagungkannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kami lebih berhak terhadap Musa dari pada kalian.” Lalu beliau memerintahkan kaum muslimin untuk bershaum pada hari tersebut.” (HR. Al Bukhari no. 3649)
Hukum Shaum ‘Asyura’
 
Pada permulaan hijrah ke Madinah kaum muslimin diwajibkan untuk berpuasa ‘Asyura’, sebagaimana hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu di atas ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati bangsa Yahudi melaksanakan shaum ‘Asyura’:

نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ثُمَّ أَمَرَ بِصَوْمِهِ

“Kami lebih berhak terhadap Musa dari pada kalian”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan (kaum muslimin) untuk bershaum pada hari tersebut.
Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhari dari shahabat Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu:

أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ فَإِنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seorang laki-laki dari bani Aslam untuk mengumumkan kepada manusia: “Bahwa barangsiapa yang telah makan maka hendaknya dia bershaum pada sisa hari tersebut, dan barangsiapa yang belum makan maka hendaknya dia bershaum karena hari ini adalah hari ‘Asyura’.” (HR. Al Bukhari no. 1790)
Kemudian kewajiban tersebut dihapus dengan turunnya perintah shaum Ramadhan sebagaimana ditegaskan di dalam hadits Abdullah bin Umarradhiyallahu ‘anhu:

صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تُرِكَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shaum ‘Asyura’ dan juga memerintahkan kaum muslimin untuk bershaum pada hari tersebut. maka ketika shaum Ramadhan diwajibkan, shaum ‘Asyura’ ditinggalkan.” (HR. Al Bukhari no. 1759)

dan juga sebagaimana di kabarkan di dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk bershaum pada hari ‘Asyura’. Namun ketika diwajibkan shaum Ramadhan, maka boleh berpuasa (’asyura’) bagi yang menghendakinya, dan boleh juga tidak berpuasa bagi siapa yang menghendaki.” (HR. Al Bukhari no. 1861)
dalam riwayat yang lain:

فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ الْفَرِيضَةَ وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ فَكَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ

“Maka ketika turun perintah shaum Ramadhan, maka shaum Ramadhan menjadi suatu kewajiban dan ditinggalkan (kewajiban) shaum ‘Asyura’. maka boleh berpuasa (’asyura’) bagi yang menghendakinya, dan boleh juga tidak berpuasa.”

Berdasarkan hadits-hadits di atas, puasa ‘Asyura’ tidak lagi wajib dengan datangnya kewajiban puasa di bulan Ramadhan. Akan tetapi, tetap disyariatkan shaum ‘Asyura’ dan hukumnya mustahab (sunnah).

Keutamaan shaum ‘Asyura’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang keutamaan shaum ‘Asyura’, beliau bersabda:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“(Shaum ‘Asyura’ itu dapat) menghapuskan dosa-dosa tahun yang lalu.” (HR. Muslim no.1162, dari shahabat Abu Qatadah Al Anshary radhiyallahu ‘anhu)

Para ulama mengatakan bahwa yang dihapus adalah dosa-dosa yang kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka tidak bisa dihapus kecuali pelakunya bertaubat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (An Nisaa’: 31)

Kapan Puasa ‘Asyura’ dilaksanakan?
Puasa ‘Asyura’ dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram, hanya saja setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui hari tersebut adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashara, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk menyelisihi mereka, yaitu dengan mengiringi shaum ‘Asyura’ dengan shaum sehari sebelumnya (tanggal 9 Muharram). sebagaimana hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shaum (berpuasa) pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan kaum muslimin untuk bershaum (’Asyura’), mereka mengatakan: “Wahai Rasulullah sesungguhnya hari ‘Asyura’ (10 Muharram) adalah hari yang diagungkan oleh bangsa Yahudi dan Nashara.” maka berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika pada tahun yang akan datang insya Allah kita akan bershaum hari ke-9, dan belum datang tahun berikutnya, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.” (HR. Muslim no.1916)

Di dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Jika aku masih hidup sampai tahun yang akan datang, sungguh aku akan bershaum pada hari ke-9 (Muharram).” (HR. Muslim no. 1134, dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu)

Perintah untuk menyelisihi Yahudi di dalam tata cara shaum ‘Asyura’ juga ditegaskan di dalam hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu:

صُومُوا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَوَخَالِفُوا الْيَهُودَ

“Bershaumlah kalian pada hari ke-9 dan ke-10 (Muharram) dan selisihilah Yahudi”.(HR. Al Baihaqi 4/287)

Adapun hadits yang menyatakan tentang shaum sehari sebelum atau sehari setelah hari ‘Asyura’, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad:

صُومُوا يَوْماً قَبْلَهُ أَوْ يَوْماًً بَعْدَهُ خَالِفُوا الْيَهُودَ

“Bershaumlah kalian sehari sebelumnya (tanggal 9 Muharram) atau sehari sesudahnya (tanggal 11 Muharram), selisihilah Yahudi.”

Maka hadits tersebut diperselisihkan keshahihannya oleh para ulama, adapun Asy Syaikh Al Albani melemahkan hadits tersebut.

Sehingga tata cara shaum ‘Asyura’ adalah shaum pada hari ke-10 Muharram dan yang afdhal (utama) adalah pada hari ke-9 dan ke-10 Muharram, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Jika aku masih hidup sampai tahun yang akan datang sungguh aku akan bershaum pada hari ke-9 (Muharram)”.(HR. Muslim no. 1134, dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu).
Sehingga pelaksanaan shaum ‘Asyura’ adalah sebagai berikut :

1. tanggal 10 Muharram saja, atau

2. tanggal 9 dan 10 Muharram, atau

3. tanggal 10 dan 11 Muharram.

Ada yang berpendapat bahwa berpuasa tanggal 9,10, dan 11 Muharram, namun yang lebih utama dari itu semua adalah berpuasa pada tanggal 9 Muharram dan 10 Muharram.

Wallahu a’lam

(lihat Majmu’ Fatawa Asy Syaikh bin Baz dan Majmu’ Fatawa Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Penutup

Para pembaca yang mulia, hendaklah kesempatan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada kita dengan menjumpai bulan Muharram ini dipergunakan sebaik-baiknya, amalan shalih berupa shaum ‘Asyura’ kita laksanakan hanya dengan mengharap pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan kita dan menjadikannya sebagai timbangan kebaikan kita di hari kiamat.

-Amin Ya Rabbal ‘Alamin-



Sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=439#more-439

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan komentar di bawah sini ya...

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes