Selasa, 19 Oktober 2010

---Sudahkah Kita Wara' ??---


Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

Wara’ adalah suatu sikap meninggalkan perkara yang syubhat (samar atau tidak jelas halal haramnya) karena khawatir terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan. (At-Ta‘rifat, Al-Jurjani, 1/325, Subulus Salam, 2/261).


Berkata Abu Abdirrahman Al-Umari Az-Zahid: “Apabila seorang hamba memiliki sifat wara`, niscaya dia akan meninggalkan perkara yang meragukannya menuju kepada perkara yang tidak meragukannya.” (Jami`ul Ulum, 1/281)


Sementara Hassan bin Abi Sinan rahimahullah mengatakan: “Tidak ada sesuatu yang lebih ringan/mudah daripada sikap wara`. Apabila ada sesuatu yang meragukanmu maka tinggalkanlah.” (Jami`ul Ulum,1/281).

Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah di dalam Mukhtashar Minhajil Qashidin hal. 88 berkata: “Wara’ itu memiliki empat tingkatan:

1. Berpaling dari setiap perkara yang dinyatakan keharamannya.
2. Wara‘ dari setiap perkara syubhat yang sebenarnya tidak diwajibkan untuk dijauhi, namun disenangi baginya untuk meninggalkannya. Dalam perkara ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tinggalkan perkara yang meragukanmu menuju kepada perkara yang tidak meragukanmu.”
3. Wara‘ dari sebagian perkara yang halal karena khawatir jatuh kepada perkara yang haram.
4. Wara‘ dari setiap perkara yang tidak ditegakkan karena Allah dan ini merupakan wara‘nya para shiddiqin (orang-orang yang benar imannya).

Sikap wara’ secara mendetail hanya dapat direalisasikan oleh orang yang istiqamah jiwanya (dalam mengerjakan kewajiban dan meninggalkan perkara yang dilarang), seimbang amalannya dalam takwa dan wara‘. Adapun orang yang suka berbuat keharaman secara zhahir, kemudian ia ingin bersikap wara’ dalam berbagai syubhat yang rinci dan tersamar, maka hal ini tidak akan mungkin baginya, bahkan sikapnya ini diingkari (sekedar omong kosong). Karena itulah Ibnu ‘Umar radhiyallohu 'anhu mengingkari orang-orang dari penduduk Iraq yang bertanya kepadanya tentang hukum darah nyamuk. Beliau berkata: “Mereka bertanya kepadaku tentang darah nyamuk sementara mereka telah menumpahkan darah Al-Husain radhiyallohu 'anhu, padahal aku telah mendengar Rasulullah shalallohu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Keduanya (Al-Hasan dan Al-Husain) adalah kembangku yang semerbak dari penduduk dunia”. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 3753) [Jami‘ul Ulum,1/283]

Contoh Sikap Wara‘

Jika membaca perjalanan hidup pendahulu kita yang shalih, kita dapati mereka adalah orang-orang yang menyandang seluruh akhlak Islam yang mulia, baik akhlak yang wajib maupun yang sunnah. Betapa kalam (ucapan) Allah dan Rasul-Nya (Al Qur’an dan As Sunnah) menancap di hati-hati mereka dan mengakar di sanubari mereka. Dan tidak cukup dengan itu, kita dapati juga mereka adalah orang yang bersemangat dalam mengamalkan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu akhlak yang bisa kita lihat dari amalan mereka adalah wara‘ . Kisah wara‘ mereka di antaranya:

1. ‘Aisyah radhiyallohu 'anha mengabarkan bahwa Abu Bakar radhiyallohu 'anhu pernah mencicipi makanan yang diberikan oleh budaknya. Maka budak tadi berkata kepadanya: “Apakah engkau tahu dari mana aku dapatkan makanan ini?” Abu Bakar radhiyallohu 'anhu bertanya: “Dari mana engkau mendapatkannya?” Budaknya menjawab: “Dulu di masa jahiliyah aku pernah meramal untuk seseorang, sebenarnya aku tidak pandai meramal namun aku cuma menipunya. Lalu orang itu menemuiku dan memberiku upah atas ramalanku. Inilah hasilnya, apa yang engkau makan sekarang.” Mendengar hal tersebut Abu Bakar radhiyallohu 'anhu segera memasukkan tangannya ke dalam mulutnya untuk memuntahkan makanan yang terlanjur masuk ke dalam kerongkongannya, kemudian ia memuntahkan semua makanan itu. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 3842)

2. Nafi‘ berkata: ‘Umar Ibnul Khaththab radhiyallohu 'anhu menetapkan subsidi rutin bagi para shahabat dari kalangan Muhajirin yang awal berhijrah sebanyak 4000 sementara putranya ia tetapkan sebesar 3500. Kemudian ada yang berkata kepada ‘Umar: “Bukankah Ibnu ‘Umar termasuk dari kalangan Muhajirin, mengapa engkau mengurangi subsidinya?” Umar menjawab: “Ayahnya-lah yang membawanya berhijrah. Dia tidak sama dengan orang yang berhijrah sendiri (yang tidak dibawa oleh orang tuanya).” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 3912)

3. Yazid bin Zurayi‘ rahimahullah mewarisi harta ayahnya sebesar 500 ribu namun ia tidak mengambilnya. Ayahnya bekerja untuk para sultan, sedangkan Yazid bekerja membuat keranjang dari daun kurma, dan dari penghasilan itulah yang digunakannya untuk makan sehari-hari sampai beliau t meninggal dunia. (Al-Wara‘, Al-Imam Ahmad bin Hanbal, hal. 7)

Banyak lagi bisa kita dapatkan kisah-kisah wara‘ mereka yang bisa dilihat pada perjalanan hidup mereka di kitab-kitab biografi para ulama.

Semoga kita semua dapat mengambil 'ibroh dari kisah-kisah salafunash sholeh dalam hal ke wara'-an mereka dan menjadikan kita senantiasa bersikap wara' dalam kehidupan kita. Aamiin ya Robb Al 'Alamiin..

Sumber: di ambil dari kumpulan artikel bentuk CHM Majalah AsySyariah Vp. 1.8

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan komentar di bawah sini ya...

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes